hanya pemuda tengik yang terlalu banyak bermimpi

membaca dunia dari kacamata kami

well educated leader or good educated leader?

Posted in ilmiah with tags , , on 22/02/2009 by pemudatengik

Beberapa bulan menjelang pemilihan umum dan pemilihan presiden secara langsung, ada banyak wacana yang disampaikan banyak politikus dan negarawan di negeri ini. Mulai dari fisik dan kesehatan capres, polemik capres tua/muda (under/above 50), bahkan termasuk masalah pendidikan terakhir seorang calon presiden.

Terkait masalah terakhir yang disebutkan di atas, apa benar tingkat pendidikan menentukan kualitas seorang (calon) presiden?

Ada banyak orang berpendidikan di bumi Indonesia ini. Ada banyak pula orang baik di sini.

Tapi faktor utama apakah yang paling dibutuhkan sebuah bangsa dalam memilih pemimpin?

beberapa waktu yang lalu, salah satu parpol mensyaratkan calon presiden yang akan mereka usung ke pentas pemilihan presiden langsung tahun depan adalah minimal harus menyandang gelar Doktor. wow… hebat

Tapi apakah itu jaminan seorang yang bergelar doktor (disingkat DR -> dengan huruf besar) bisa membawa negeri ini kepada yang lebih baik seperti yang kita dambakan bersama.

Menurut saya, seorang yang berpendidikan tinggi bukanlah jaminan adalah juga seorang yang baik. di DPR banyak yang berpendidikan, tapi korupsi juga. di LP-LP banyak juga yang bergelar akademis ok, tapi koq bisa jadi tahanan.

Tapi kalau orang baik saja jg tidak mungkin bisa dijadikan pemimpin. Akan banyak timbul mosi tidak percaya yang bisa membuat wibawanya bakal goyah dan akibatnya mengganggu stabilitas negara. Apalagi kebaikannya tersebut bisa saja dimanfaatkan oleh orang-orang terdekatnya yang tidak bertanggung jawab demi kepentingan pribadi atau kelompok.

Abraham Lincoln adalah salah seorang presiden besar di negeri paman sam. dia tidak pernah menyentuh pendidikan formal, berarti tidak punya gelar akademis. banyak hal yang dia pelajari dengan otodidak dan dari pengalaman. tapi dikenal sebagai salah satu Presiden terbesar sepanjang sejarah Amerika dengan  jasanya menghapuskan perbudakan di amerika.

well educated leader => “well” adalah adverb, menjelaskan kata kerja “educated” berarti pemimpin yang berpendidikan baik (pendidikannya yang baik)
good educated leader => “good” adjectif menjelaskan noun atau kata benda “leader” berarti pemimpin baik yang berpendidikan (orangnya yang baik dan berpendidikan juga)

jadi mau pilih yang mana? saat ini bangsa kita dipimpin oleh seorang yang bergelar Doktor, berhasilkah ia? Negara kita juga pernah dipimpin oleh Profesor, Jendral bintang lima, lulusan SMA. Jjawaban sudah ada di hati kita masing-masing.

hmm, pilihannya juga kembali lagi pada kita.

lirik senyap

Posted in fiksi with tags on 22/02/2009 by pemuda2

masih di tempat itu aku rupanya
rasanya berat untukku beranjak
membuat kesedihan merasuki
gelap dan semakin gelap hingga tersisa sedikit sekali terang

tawanya walau sayup mulai terdengar
mencoba untuk menarik perhatianku
yang seakan membeku dan mematung
walau sang mata masih bisa menajamkan lihatnya

sedikit senyumku masih bisa ternyata
mengisyaratkan ada harapan
mengambang dan melayang bersama buih dan debu
membaur di air dan udara

banyak sekali tanya yang belum ada jawabnya
aku sedih begitu dalam
larut dalam kelam

ada nyanyian menyayat hati
semakin menjadi-jadi kurasakan
puisi pun mengiringinya
bukan puisi cinta seperti yang kuharapkan
tetapi lirik keseharian seorang biasa
yang seperti ingin selalu menjadi biasa

Generasi Biru: Slank Membaca Indonesia

Posted in fiksi with tags , , on 22/02/2009 by pemuda1
Adakah yang percaya bahwa satu lagu mampu mengubah seseorang? Adakah yang percaya bahwa satu orang dapat mempengaruhi orang-orang di sekitarnya? Adakah yang percaya bahwa orang-orang itu kemudian mampu mengubah bangsanya? Mampukah kemudian bangsa itu tegak nyalang mengubah dunia? Jika ada mungkin pendapat kita akan berbeda-beda.

John Lennon dengan Imagine-nya mungkin salah satu contoh. Pesan anti-perang yang diagungkan dia menjadi cambuk pergerakan tolakperang di seantero jagat. Festival Woodstock pun pernah menjadi saksi bagaimana dulu para Generasi Bunga menolak wajib militer di Amerika. Make love Not War bergema dimana-mana.

Indonesia sebagai sebuah negara yang rentan akan konflik beruntung memiliki kumpulan anak-anak muda resah ini. Slank, berdiri sejak 1983, mencatat pengalaman perjalanan individu, masyarakat hingga kehidupan berbangsa ke dalam karya mereka. Gonta-ganti personil hingga 14 kali terjadi di tubuh Slank dan formasi terakhir dianggap formasi tersolid Slank. Bim-Bim, Kaka, Ridho, Abdee dan Ivanka mendobrak segala etika bermusik dengan menjadikan setiap karya adalah otentik mereka.

Sehebat apakah sebuah lagu mampu membawa perubahan? Bagi yang telah terjerat oleh lirik lagu Slank tentu mampu menjawab ini. Bahkan seorang fans akhirnya memfilmkan Slank. Satu contoh sebuah lagu mampu mengubah seseorang. Seorang Garin Nugroho-pun memiliki penilaian pribadi tentang band legenda ini. Baginya slank adalah bagaimana Indonesia seharusnya. Mungkin ini yang akhirnya membuat sutradara ini mau menjadikan Slank sebagai bagian dari perjalanan hidupnya berkesenian.

Film Generasi Biru, diangkat berdasar salah satu judul lagu Slank yang sama, merupakan sebuah film yang tak-biasa. Bagi yang menginginkan sebuah drama percintaan yang termehek-mehek disarankan tak usah menonton film ini karena mereka tak akan dapatkan itu. Begitu juga dengan mereka yang mengharapkan action berdarah-darah pasti akan menyesal membayar tiket bioskop. Tapi bagi mereka yang ingin tahu bagaimana 25 tahun perjalanan sebuah band dalam berkesenian yang telah menjadi saksi dari berbagai peristiwa dan kehidupan berbangsa layak untuk menyaksikan film ini. Juga bagi mereka yang ingin melihat Slank menari dipersilahkan mengantri untuk ini.

Susah untuk bisa menjelaskan bagaimana me-review film ini, karena setiap adegan penuh dengan simbol yang memberi makna berbeda. Garin seperti ingin mengulang bagaimana Opera Jawa mendekonstruksi kisah Ramayana melalui elemen-elemen audiovisualnya. Generasi Biru menyisir bagaimana Garin mereinterpretasi lirik-lirik Slank secara semiotik visual. Seperti kupu-kupu yang berserak sepanjang film bagi saya adalah sebuah metamorfosis Slank dari pecandu narkoba sampai menjadi duta anti-narkoba.

Dengan jernih film Generasi Biru mengetuk mahluk pelupa bernama manusia untuk tidak lupa bagaimana bangsa ini penuh dengan sejarah konflik. Banyak nyawa yang (di)hilang(kan), banyak yang tak kembali kepada keluarga mereka, banyak darah yang tumpah, banyak demonstrasi, banyak penculikan, dan terjadi disintegrasi bangsa. Film ini bagi saya mengingatkan kita kembali untuk kembali berkaca di 10 tahun reformasi apa yang sudah kita capai. Semua konflik (ras, agama, politik, sex) menjadikan kita sebagai bangsa yang rentan untuk terluka. Kompleksnya masalah mulai dari ekonomi dan sosial menjadikan kita sebagai bangsa yang saling menyakiti satu sama lain. Film ini menjadi bukti bahwa lagu mampu mengubah masyarakat.

Satu momen berkesan dari film ini adalah ketika Slank mentas di Dili pasca tertembaknya Presiden Timor Leste. Saya meneteskan air mata tatkala lagu Ku Tak Bisa dinyanyikan dengan penuh penghayatan oleh penonton, saya membayangkan apakah memang disintegrasi ini sebuah keputusan yang tepat. Perhatikan bagaimana Korea terpecah menjadi dua yang mengakibatkan perang saudara tak berkesudahan.

Terlalu banyak yang ingin disampaikan tapi akan menjadi terlalu pribadi karena film ini bagi saya menjadi sangat personal. Saya menyenangi Slank jauh lebih lama daripada saya mengenal film-filmnya Garin. Bagi saya Slank adalah legenda, setiap lirik yang dibuatnya adalah semangat bagi saya untuk juga terus berkarya. Semangat akan damai, cinta, persatuan dan saling hormat (PLUR) menjadikan Slank terdepan dalam kampanye sebuah perubahan. Slank adalah ikon nasional yang akhirnya go-international. Bahkan Berlinale International Film Festival rela memberikan dispensasi bagi film ini supaya bisa diputar di Jerman sana. Konon katanya tak ada bangku kosong kala menonton film ini. Semua tiket laku terjual. Sekali lagi bagi saya ini membuktikan bagaimana sebuah lagu mampu merubah dunia. Jadi masih adakah yang tidak percaya kekuatan sebuah lagu?

senayan, 21/2/09